Jumat, 07 Maret 2025

Hot Wheels Beat That PS 2

QUICKRACE: Ten Pin Tearaway

Goal I: Boost through any 2 loops at max speed. Don’t get dizzy!
Use boost 

Goal II: Achieve a direct hit on an opponent with the super charged Ice Gun in the Machinery area. Show no mercy!


Shoot ice gun LV2 (SUPERCHARGED with R2)
In the place

Password


Rabu, 09 Juli 2014

Ujian Akhir Semester Kimia Organik 2

Nama : Daniel Marison
NIM   : AC112017
Prodi  : Pendidikan Kimia Reguler

SOAL


    1.Jelaskan kemungkinan terbentuknya ikatan rangkap tiga pada lemak atau minyak tak jenuh!
    2. Jelaskan proses pencucian surfaktan yang dilarutkan dengan pelarut organic bebas air!
    3.Bagaimana cara kerja indra pengecap sehingga menimbulkan rasa manis (contohnya fruktosa)? 
  4.Jelaskan hubungan hormon oksitosin dengan dengan gelombang α dan θ yang dikeluarkan oleh otak!

    5. Pada karbohidrat mengandung gugus fungsi OH yang sangat banyak. Jelaskan bagaimana sifat basa ditimbulkan atau dihasilkan gugus OH pada sakarida! 


         Jawaban
     1. Kita ketahui bahwa asam lemak tak jenuh memiliki ikatan rangkap dua dan dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
     Dan untuk membuat asam lemak ini menjadi rangkap tiga, saya sangat sulit untuk menemukan literatur/sumber dari internet. Namun berdasarkan dari reaksi eliminasi saya terdapat solusi dan bisa memungkinkan terjadi ikatan rangkap tiga. Karena dari alkana(ikatan tunggal) bisa dibuat menjadi alkena(ikatan rangkap 2). Otomatis asam lemak yang tak jenuh ini bisa dibuat menjadi ikatan rangkap 3.
.


Agar terbentuk ikatan rangkap 3, asam lemak ini harus direaksikan oleh halogen seperti Cl dan Br yang besifat nukleofilik  supaya salah satu ikatan hydrogen pada ikatan rangkap dapat tersubstitusi dan atom H yang satunya dapat ditarik oleh Basa kuat dan menyebabkan gugus halide menjadi gugus pergi maka terbentuklah ikatan rangkap 3.
Mekanisme reaksinya :



Pada reaksi ini, asam lemak yang digunakan adalah Asam oleat(CH3(CH2)7CH=CH(CH2)7COOH atau C 18 :1). Senyawa ini direaksikan  dengan Br2. Dimana Br yang memiliki ini bersifat nukleofil menyerang C yang bermuatan positif pada ikatan rangkap. Kemudian elekton pada karbon berpindah posisi sehingga ikatan H terlepas dan berikatan dengan Br yang lain. Sehingga terjadi reaksi substitusi dan produknya Asam lemak tak jenuh yang terdapat alkil halida dan HBr.
  Selanjutnya Asam lemak tak jenuh tersebut direaksikan dengan basa kuat seperti NaOH agar ikatan H terputus dan gugus Br pergi.

Mekanisme reaksinya :


Dimana Na bermuatan positif dan OH bermuatan negative, ion OH inilah yang bersifat basa sehingga menarik ion H + membentuk molekul H2O dan electron pada atom karbon menstabilkan diri dengan cara elektronnya berpindah sehingga menyebabkan gugus Br - terputus dan berikatan dengan Na+ menjadi garam yaitu NaBr dan terjadilah ikatan rangkap 3 pada atom karbon tersebut. 



2. Deterjen adalah campuran berbagai bahan, yang digunakan untuk membantu pembersihan dan terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi. Deterjen juga termasuk zat surfaktan yang memiliki gugus polar yang bersifat hidrofilik dan non polar yang bersifat hidrofobik. Dibanding dengan sabun, deterjen mempunyai keunggulan antara lain mempunyai daya cuci yang lebih baik serta tidak terpengaruh oleh kesadahan air. Detergen merupakan garam Natrium dari asam sulfonat.

 Zat surfaktan pada sabun


 

Reaksi pembuatan deterjen

 
  Rantai hidrokarbon, R, di dalam molekul sabun di atas mungkin adalah rantai hidrokarbon yang lurus atau rantai hidrokarbon yang bercabang.

Mekanisme sabun dalam membersihkan kotoran / daki adalah pertama air menginduksi sabun (zat surpaktan) pada bagian polar (kepala) setelah itu sabun akan menyerang kotoran yang terdiri lemak/minyak  bersifat non polar , debu dan cairan yang bersifat polar. Pada zat surfaktan yang bagian bersifat non polar akan menyerang lemak/minyak dan bagian yang bersifat polar menyerang kotoran yang masih polar dan air sebagai media pelarut yang juga membantu sabun mengangkat kotoran.

                  Karena air bersifat polar dan terdapat ion H+ dan OH, jadi menurut saya , pelarut yang dapat menggatikan air sebagai pelarut saat proses pencucian adalah pelarut organic. Contohnya aseton (CH3COCH3) .Oleh karena polaritas aseton yang menengah, ia melarutkan berbagai macam senyawa dan juga asam format (H-CO-OH) yang memiliki kepolaran hampir mirip serta strukturnya dengan air dan sifatnya menyerupai air. Sehingga kedua senyawa ini dapat berinteraksi dengan deterjen dan membawa kotoran yang mengandung sifat polar.
                                                     Struktur Asam format dan Aseton
     


                   Namun , asam format berbahaya jika digunakan sebagai pelarut dalam mencuci karena asam ini dapat merusak kulit ketika digunakan. Jadi lebih baik menggunakan aseton sebagai pengganti air.
 
                3. Kita ketahui lidah merupakan salah satu indera pada tubuh kita, yaitu indera pengecap . dengan lidah kita dapat merasakan rasa dari suatu makanan dan minuman. Pada beberapa bagian lidah terdapat daerah yang peka rasa.









      Cara Kerja Lidah
           Secara sederhana proses lidah mengecap rasa adalah pertama-tama  “Makanan atau Minuman” yang telah berupa larutan di dalam mulut akan merangsang ujung-ujung saraf pengecap. Oleh saraf pengecap, rangsangan rasa ini diteruskan ke pusat saraf pengecap di otak. Selanjutnya, otak menanggapi rangsang tersebut sehingga kita dapat merasakan rasa suatu jenis makanan atau minuman.
Jika kita lihat pada lidah kita, terdapat benjolan- benjolan kecil/ bintil- bintil kecil yang disebut papilla . Pada papila/ papillae  ini  terdapat sel-sel  pengencap yang disebut taste bud. Macam –macam papila yaitu papila circumvallate, papila foliate dan papila fungiform, papilla filiform, papilla vallate. Papila circumvallate terletak pada bagian ujung lidah dan mengandung ribuan taste bud. Folliate papilae terletak pada bagian tepi mendekati bagian belakang lidah dan mengandung ratusan taste bud. Papila fungiform terletak pada bagian pangkal dan mengandung hanya beberapa taste bud.
Secara garis besar, proses pengecapan rasa berlangsung terjadi proses biokimia dengan melalui 3 tahap, yaitu: resepsi, tranduksi sinyal dan respon. 1.Tahap resepsi merupakan tahap pengenalan sinyal yang memiliki rasa tertentu (tastan) oleh suatu reseptor. 2.Tranduksi sinyal meliputi reaksi bertahap dalam sel akibat adanya sinyal rasa. 3.Respon merupakan respon akhir sel-sel pengecap yang mengirimkan sinyal tersebut menuju sistem saraf.
Tahap resepsi menentukan jenis rasa dari suatu zat. Suatu zat yang memiliki rasa tertentu akan mampu berikatan dengan molekul-molekul reseptor yang terdapat di lidah.  Sebagai contoh, konsumsi sukrosa akan menyebabkan sukrosa terikat oleh reseptor rasa manis yang terdapat di lidah. Begitu pula jika yang di konsumsi adalah molekul natrium glutamat maka natrium glutamat ini akan terikat pada reseptor rasa gurih.


Reseptor untuk rasa manis dan gurih pada sel pengecap berupa protein dari famili G protein–coupled receptors (GPCRs), yang disebut T1R.  Ada 3 gen dalam famili T1R. Dua gen yang pertama, yaitu T1R1 dan T1R2 telah diidentifikasi pada tahun 1999 dengan menganalisis urutan cDNA dari jaringan taste tikus. Gen ketiga, yaitu T1R3 yang diidentifikasi pada tahun 2001 yang terdapat pada genom manusia. Dalam melaksanakan kerjanya, T1R diekspresikan secara berpasangan. Reseptor heteromerik T1R2/T1R3 merupakan reseptor untuk rasa manis. Reseptor ini dapat secara selektif dapat merespon 20 pemanis yang diujikan pada konsentrasi fisiologis yang relevan. Reseptor T1R1/T1R3 pada berbagai sel memiliki suatu korelatif terhadap rasa gurih. Reseptor heteromerik tersebut dapat mengenali glutamat pada konsentrasi efektifnya. Reseptor tersebut hanya merespon glutamat, aspartat, dan L-2-amino-4-fosfonobutirat. Berbeda halnya dengan reseptor T1R1/T1R3 tikus yang dapat mengenali semua asam L-amino. Saat ini berbagai senyawa sintetik yang berbeda telah diketahui dapat dikenali oleh reseptor T1R1/T1R3 dan T1R2/T1R3.
Reseptor T1R merupakan suatu protein transmembran yang memiliki dua domain. Domain pertama terdapat di luar sel yang berfungsi untuk mengikat tastan yang sesuai. Domain kedua merupakan domain transmembran yang melakukan kopling dengan protein G yang berfungsi dalam tranduksi sinyal.
Proses tranduksi sinyal pada sistem rasa melalui G protein dan second messenger berupa fosfolipase C.  Pengikatan tastan pada reseptor menyebabkan perubahan konformasi pada domain transmembran reseptor. Perubahan konformasi tersebut mempengaruhi interaksi reseptor dengan protein G stimulatori (Gs). Reseptor T1R3 biasanya terikat pada subunit G(alpha) 14 atau subunit G(alpha) lainnya. Subunit G(alpha) terikat pada subunit G(beta, gamma), seperti subunit G(gamma) 13 dan G(beta1) atau G(beta3). Perubahan konformasi domain transmembran reseptor menyebabkan subunit G(beta, gamma) terlepas dan bergerak sepanjang membran sel.  G(beta, gamma) yang terlepas akan beriteraksi dengan enzim fosfolipase C (PLC) b2. PLCb2 merupakan isoform enzim PLC yang unik karena teraktivasi oleh subunit G(beta, gamma), sedangkan isoform PLC pada umumnya teraktivasi oleh subunit G(alpha). Interaksi antara subunit G(beta, gamma) dengan PLCb2 mengaktifkan aktivitas enzim tersebut. Enzim PLC dapat menghidrolisis fosfatidilinositol 4,5-bisfosfat menghasilkan inositol trisfosfat (IP3) and diasilgliserol.
Salah satu produk hidrolisis tersebut adalah IP3. IP3 merupakan senyawa larut dalam air, yang akan berdifusi dari membran plasma menuju sitosol dan akhirnya menuju retikulum endoplasma (Nelson dan Cox, 2004). Pada permukaan retikulum endoplasma terdapat rseptor spesifik untuk IP3, yaitu: IP3R. Reseptor IP3R tersebut merupakan suatu ion channel yang akan terbuka apabila terikat dengan IP3. Pengikatan tersebut membuka channel ion, sehingga ion Ca2+ yang terdapat dalam retikulum endoplasma berdifusi menuju sitosol. Konsentrasi ion Ca2+ yang terdapat di sitosol meningkat drastis dari konsentrasi kurang dari 10-7 M menjadi sekitar 10-6. Peningkatan kandungan ion Ca2+  intraseluler menyebabkan terjadinya dua hal dalam sel-sel pengecap. Pertama, pembukaan kanal kation selektif pengecapan (TPRM5) di membran plasma. Kedua, pembukaan gap junction hemichannel.
Peningkatan kadar Ca2+ intraseluler menyebabkan kanal ion TPRM5 menjadi terbuka. Ion Na+ yang konsentrasi di luar sel lebih tinggi dibanding intraseluler akan berdifusi masuk melalui kanal ion TPRM5 tersebut. Hal ini menyebabkan terjadinya depolarisasi tegangan potensial membran sel. Depolarisasi tersebut dan adanya peningkatan kadar ion Ca2+ intraseluler menyebabkan terbukanya gap junction hemichannel. Terbukanya hemichannel tersebut menyebabkan berbagai molekul seperti  transmitter taste bud, ATP dan molekul-molekul lain mengalami difusi keluar sel. Aktivasi TPRM5 dapat ditingkatkan dengan meningkatkan temperatur. Pada temperatur yang lebih tinggi, meningkatnya aktivitas TPRM5 dapat meningkatkan intensitas rasa manis yang dapat dikecap oleh lidah. Hal ini dapat menjelaskan bahwa es krim yang mengandung kadar gula yang sama dengan teh hangat akan terasa kurang manis (Ishimaru and Matsunami, 2009).
Begitulah suatu proses pengecapan rasa berlangsung di dalam tubuh manusia. Proses ini sangat rumit/kompleks, teratur dan berlangsung dalam sel yang berukuran amat sangat kecil. Setiap kerja yang dilakukan suatu bagian sel langsung berakibat terhadap bagian sel yang lain. Bayangkan, apabila satu saja dari sistem pengecapan tersebut ada yang rusak, tentunya manusia akan hidup di dunia yang serba tawar.

Dan kita ketahui bahwa Sukrosa merupakan molekul disakarida yang merupakan gabungan dari satu molekul glukosa dan satu molekul fruktosa . Fruktosa merupan glukosa juga dan bersifat manis (gula buah) maka akan terikat oleh G protein–coupled receptors (GPCRs), yang disebut T1R (Reseptor manis) dan protein G akan  mentranduksi sinyal menuju IP3 dan akan meningkatkan ion Ca2+. Peningkatan kandungan ion Ca2+  intraseluler menyebabkan terjadinya dua hal dalam sel-sel pengecap. Pertama, pembukaan kanal kation selektif pengecapan (TPRM5) di membran plasma. Kedua, pembukaan gap junction hemichannel. Pada saat kanal ion TPRM5 menjadi terbuka. Ion Na+ yang berada di luar sel, konsentrasinya lebih tinggi dibanding intraseluler akan berdifusi masuk melalui kanal ion TPRM5 tersebut. Hal ini menyebabkan terjadinya depolarisasi tegangan potensial membran sel. Depolarisasi tersebut dan adanya peningkatan kadar ion Ca2+ intraseluler menyebabkan terbukanya gap junction hemichannel.Terbukanya hemichannel tersebut menyebabkan berbagai molekul seperti  transmitter taste bud, ATP dan molekul-molekul lain mengalami difusi keluar sel.
Aktivasi TPRM5 dapat ditingkatkan dengan meningkatkan temperatur. Pada temperatur yang lebih tinggi, meningkatnya aktivitas TPRM5 dapat meningkatkan intensitas rasa manis yang dapat dikecap oleh lidah dan jumlah fruktosa yang diikat akan menjadi lebih banyak dan menghasilkan rasa manis.


4. Berdasarkan artikel yang saya baca, Oksitosin (bahasa Yunani: (ŏk'sĭ-tō'sĭn), yang berarti kelahiran cepat) (bahasa Inggris: oxytocin, OT, pitocin, syntocinon) adalah hormon pada manusia yang berfungsi untuk merangsang kontraksi yang kuat pada dinding rahim/uterus sehingga mempermudah dalam membantu proses kelahiran.
Selain itu, Hormon ini juga berfungsi untuk mensekresi air susu dengan merangsang kontraksi duktus laktiferus kelenjar mammae (payudara) pada ibu menyusui. Namun, Produksi air susu tersebut di atur oleh hormon Prolaktin. Prekursor oksitosin bernama oksitosin-neurofisin bahasa Inggris: oxytosin-neurophysin, OT-Np) disintesa di dalam kelenjar hipotalamus.[1]





   
 Sedangkan otak merupakan pusat koordinasi di dalam tubuh dan memiliki peran yang sangat penting. Diketahui bahwa otak kita tak terdiri dari milyaran sel otak yang disebut neuron.Setiap neuron saling berkomunikasi (menjalin hubungan) dengan memancarkan gelombang listrik. Gelombang listrik yang dikeluarkan oleh neuron dalam otak inilah yang disebut "gelombang otak" atau brainwave. Jadi yang disebut gelombang otak adalah "arus listrik" yang dikeluarkan oleh otak.




Ilustrasi gelombang listrik (brainwave) yang dikeluarkan oleh neuron otak



Apabila otak tidak lagi mengeluarkan gelombang otak, maka kita tahu bahwa otak tersebut sudah mati. Gelombang otak bisa diukur dengan peralatan Electroencephalograph (EEG). EEG ditemukan pada tahun 1929 oleh psikiater Jerman, Hans Berger. Sampai saat ini, EEG adalah alat yang sering diandalkan para peneliti yang ingin mengetahui aktivitas pikiran seseorang. Diketahui bahwa frekuensi gelombang otak yang dihasilkan oleh neuron bervariasi antara 0-30 Hz dan digolongkan. Di dalam otak manusia menghasilkan berbagai gelombang otak secara bersamaan. Empat gelombang otak yang diproduksi oleh otak umumnya manusia yaitu beta, alpha, tetha, delta. Akan tetapi selalu ada jenis gelombang otak yang paling dominan, yang menandakan aktivitas otak saat itu. 

                                             Grafik gelombang otak dari Delta hingga Beta

Pandangan keliru yang selama ini ada dalam benak banyak orang adalah otak hanya menghasilkan satu jenis gelombang pada suatu saat. Saat kita aktif berpikir kita berada pada gelombang beta. Kalau kita rileks kita berada pada kondisi alfa. Kalau sedang melamun, kita berada pada kondisi theta. Dan, kalau tidur lelap kita berada pada kondisi delta. Pandangan itu salah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada suatu saat, pada umumnya, otak kita menghasilkan empat jenis gelombang  secara bersamaan, namun dengan kadar yang berbeda. Misalnya dalam kondisi tidur, otak kita lebih banyak memproduksi gelombang delta, tapi tetap memproduksi theta, alpha dan beta walaupun kadarnya sedikit.
                 
           Keempat gelombang listrik yang dihasilkan oleh otak yaitu :
    
      Gelombang Beta: Waspada, Konsentrasi
             Kondisi gelombang otak Beta (13-30 Hz) menjaga pikiran kita tetap tajam dan terfokus. Dalam kondisi Beta, otak Anda akan mudah melakukan analisis dan penyusunan informasi, membuat koneksi, dan menghasilkan solusi-solusi serta ide-ide baru. Beta sangat bermanfaat untuk produktivitas kerja, belajar untuk ujian, persiapan presentasi, atau aktivitas lain yang membutuhkan konsentrasi dan kewaspadaan tinggi.

      Gelombang Alpha: Kreativitas, Relaksasi, Visualisasi
              Gelombang otak Alpha (8-13 Hz) sangat kontras dibandingkan dengan kondisi Beta. Kondisi relaks mendorong aliran energi kreativitas dan perasaan segar, sehat. Kondisi gelombang otak Alpha ideal untuk perenungan, memecahkan masalah, dan visualisasi, bertindak sebagai gerbang kreativitas kita.

     Gelombang Theta: Relaksasi mendalam, Meditasi, Peningkatan Memori
              Lebih lambat dari Beta, kondisi gelombang otak Theta (4-8 Hz) muncul saat kita bermimpi pada tidur ringan. Atau juga sering dinamakan sebagai mengalami mimpi secara sadar. Frekuensi Theta ini dihubungkan dengan pelepasan stress dan pengingatan kembali memori yang telah lama. Kondisi “senjakala” (twilight) dapat digunakan untuk menuju meditasi yang lebih dalam, menghasilkan peningkatan kesehatan secara keseluruhan, kebutuhan kurang tidur, meningkatkan kreativitas dan pembelajaran.

      Gelombang Delta: Penyembuhan, Tidur Sangat Nyenyak.
               Kondisi Delta (0.5-4 Hz), saat gelombang otak semakin melambat, sering dihubungkan dengan kondisi tidur yang sangat dalam. Beberapa frekuensi dalam jangkauan Delta ini diiringi dengan pelepasan hormon pertumbuhan manusia (Human Growth Hormone), yang bermanfaat dalam penyembuhan. Kondisi Delta, jika dihasilkan dalam kondisi terjaga, akan menyediakan peluang untuk mengakses aktivitas bawah sadar, mendorong alirannya ke pikiran sadar. Kondisi Delta juga sering dihubungkan dengan manusia-manusia yang memiliki perasaan kuat terhadap empati dan intuisi.

              Hubungan Hormon dengan Gelombang Otak
  
            Kita ketahui bahwa hormon oksitosin merupakan hormon yang yang berfungsi untuk merangsang kontraksi yang kuat pada dinding rahim(uterus) sehingga mempermudah dalam membantu proses kelahiran. Hormone ini akan mengantarkan pesan / sinyal ke otak melalui Neurotransmiter. Dimana Neurotransmiter adalah senyawa organik endogenus membawa sinyal di antara neuron. Neurotransmiter terbungkus oleh vesikel sinapsis, sebelum dilepaskan bertepatan dengan datangnya potensial aksi. Sehingga  neuron pada otak berinteraksi menghasilkan gelombang listrik yang berupa gelombang otak alfa dan gelombang otak theta.


Pada saat proses kelahiran si ibu yang akan melahirkan itu pasti takut/cemas, stress dan deg-degan.Kondisi ini yang menghambat kinerja hormone oksitosin dengan otak untuk membentuk pola gelombang otak alfa dan teta. Hal ini bisa menyebabkan si ibu yang mau melahirkan itu mengalami pendarahan yang hebat dan mengakibatkan kematian.
 Pada kondisi ini dokter berusaha membentuk pola gelombang otak alfa dan tetha pada si ibu yang mau melahirkan dengan cara, dokter menyuruh si ibu menarik nafas dalam-dalam dan di keluarkan secara perlahan- lahan agar kondisi ibu tenang dan proses kelahiran dapat berjalan dengan baik.



          5. Diketahui bahwa karbohidrat adalah senyawa kompleks yang terdiri dari atom C,H, dan O yang berupa monosakarida, disakarida , odan polisakarida dan berfungsi sebagai sumber tenaga dalam metabolisme. Selain sebagai sumber utama energi organisme hidup, juga merupakan sumber karbon untuk sintesis biomolekul dan sebagai bentuk energi polimerik.
             Karbohidrat berasal dari hidrat suatu karbon dengan rumus empiris Cx(H2O)y, merupakan polihidroksi-aldehid (-C=O) polihidroksi–keton (-C-C=O(COH) dan turunannya.


                    Sukrosa  juga termasuk karbohidrat yang termasuk golongan Disakarida karena terdiri dari glukosa dan fruktosa. Dimana monosakarida ini digabungkan oleh ikatan glikosidik yang berada pada C1 pada glukosa dan C1 pada fruktosa. Dan mekanisme reaksi :




Pada fruktosa , atom C1 terdapat gugus OH yang bersifat basa sehingga menarik Atom H pada C1 di glukosa sehingga terbentuk molekul H2O yang menyebabkan gugus OH terputus pada fruktosa dan membentuk karbokation dan atom O pada glukosa ini memiliki elektron yang bebas dan menarik karbonkation pada fruktosa sehingga membentuk ikatan 1,1-glikosidik yang menghubungkan kedua monosakarida tersebut. Karena gugus OH- menarik ion H+  Maka sifat basa ini seperti konsep asam-basa Bronsted-Lowry yang dimana OH- sebagai akseptor, menerima proton H+   .

Pada sakarida ini terdapat banyak gugus hidroksil dan tidak semua gugus OH bersifat basa. Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa pada  C1  di fruktosa gugus OH ini bersifat basa karena menarik atom H dari glukosa sehingga membentuk molekul H2O. Dan untuk Glukosa gugus OH yang bersifat Basa adalah atom C1 juga karena pada ikatan yang menghubungkan glukosa dengan glukosa pada maltosa adalah ikatan 1,4-glikosidik dan C4 gugus OH-Nya melepaskan H+.